Tuesday, October 16, 2018

Peluang Bisnis Mengolah Tomat Menjadi Saos






            Saos tomat adalah produk olahan tomat berbentuk pasta dengan aroma khas tomat. Saos tomat biasa ditambahkan sebagai bahan penyedap dan penambah rasa pada makanan. Saos tomat adalah produk yang dihasilkan dari campuran bubur tomat atau pasta tomat atau padatan tomat yang diperoleh dari tomat yang masak, yang diolah dengan bumbu-bumbu, dengan atau tanpa penambahan bahan pangan lain yang diijinkan oleh Dinkes atau BPOM. Setiap bahan yang digunakan pada pembuatan saos tomat mempunyai fungsi tertentu yang bertujuan untuk memperbaiki rasa, warna, aroma, kekentalan dan keawetan. Gula misalnya untuk memberikan rasa manis, garam untuk memberikan rasa asin, sementara cuka untuk memberikan rasa asam sekaligus memberikan efek pengawetan karena sebagian besar mikroorganisme tidak tahan terhadap kondisi asam. Rempah-rempah digunakan untuk memperbaiki aroma dan cita rasa, sedangkan maizena untuk meningkatkan kekentalan saos dan mencegah terjadinya pemisahan air dengan padatan saos pada saat penyimpanan. Pengawet digunakan untuk mencegah tumbuhnya kapang (jamur) yang menjadi masalah saat penyimpanan saos.
            Cara membuat saos tomat cukup mudah, tetapi mungkin kebanyakan dari kita belum mengerti ataupun belum tau bagaimana langkah-langkahnya, untuk lebih jelasnya simak tips sederhana berikut
Bahan:
1.      1000 gr Tomat segar
2.      200 gr Gula ( atau sesuai selera )
3.      4 sdt Garam


Teknik Pembuatan:
1.      pertama anda didihkanlah air dalam panci
2.      kemudian masukkanlah tomat sebentar, lalu angkat,dan jangan terlalu lama direbus karena akan membuat hancur tomatnya . Tujuan direbusnya agar kulit luarnya mudah untuk dikelupas
3.      Setelah itu kupaslah kulit tomat kemudian keluarkan isi tomat (bonggol dan biji dibuang),dan anda ambil daging buahnya saja
4.      Kemudian,diblender sampai halus, masukan ke dalam wajan panas tanpa minyak, serta masukkan pula gula dan garam (tujuannya : agar saos bisa tahan lama), aduk-aduk sampai airnya hilang sampai saus meletup-meletup seperti bubur, kemudian dinginkan
5.      Dikemas dalam wadah kaca ( rebuslah dahulu botol kaca untuk mensterilkan botol)
6.      Jika ingin dipasarkan buatlah design label yang menarik, cantum informasi yang dipelukan, seperti sertifikat pirt,  masa kedaluwarsa, komposisi, dan lain-lain. Siap dikonsumsi atau dipasarkan.

Berbagai jenis rasa saos antara lain adalah;
1. Saos Tomat Rasa Bawang
             jika kita ingin Saos tomat berbumbu bawang,anda bisa menambahkan bawang putih dan atau bawang merah dan atau bawang bombai, bahan-bahan itu ikut direbus bersama tomat, lalu lakukan langkah-langkah sama seperti langkah di atas.
2. Saos Tomat Pedas
            Jika menginginkan saos cabe anda dapat menambahkan cabe, dan juga ikut direbus bersama dengan tomat (anda dapat pula membuat komposisinya lebih banyak cabe dari pada tomatnya, sesuai selera anda ). sambal pedas ini terbuat dari 100% cabe atau 10% tomat dan 90% cabe
3.Saos Tomat Spageti
            Jika menginginkan saos tomat untuk membuat saos spageti, anda dapat menambahkan oregano saat proses memasak terakhir.
4. Saos Kental
            Untuk memperoleh kekentalan yang bagus, anda dapat menambahkan tepung kanji / tepung maizena 2 sendok dicairkan.

Sukses Bisnis Susu Kedelai







Susu kedelai adalah salah satu produk olahan kedelai yang sudah sangat popular dan digemari oleh banyak kalangan. Susu kedelai ini merupakan minuman alternatif susu sapi yang lezat dan sehat. Susu kedelai bisa diminum langsung maupun sebagai campuran bahan makanan lain, seperti cereal. Selain memiliki kandungan gizi yang tinggi dan baik bagi kesehatan, rasanya juga nikmat dan segar. Bahan baku kedelai merupakan bahan baku yang mudah didapat di Indonesia, baik kedelai lokal maupun kedelai impor, dan harganya juga relatif terjangkau berkisar antara 8-9 ribu per Kg.  Ada 2 jenis kedelai yaitu kedelai hitam dan kedelai kuning, umumnny kedelai hitam banyak digunakan oleh industri tahu dan tempe, sedangkan kedelai hitam umumnya digunakan untuk industri kecap. Sedangkan susu kedelai dapat dibuat menggunakan bahan baku kedelai kuning atau kedelai hitam.
Susu kedelai memiliki kandungan protein yang tinggi, satu cangkir susu kedelai mengandung 5 gram total lemak, 80 kalori, dan protein sekitar 7 gram. Selain itu susu kedelai juga kaya vitamin B-6 dan mengandung magnesium, phosphorus, riboflavin, serta thiamin. Kalau dibandingkan dengan biji-bijian lain, kacang kedelai memiliki lebih banyak protein. Protein sendiri dibutuhkan tubuh untuk pertumbuhan dan memelihara jaringan tubuh, termasuk organ dan otot.  Bedanya dengan susu sapi adalah susu kedelai tidak mengandung kolesterol dan kandungan lemak jenuhnya juga sangat rendah. Salah satu manfaat dari konsumsi susu ini adalah memenuhi kebutuhan serat dan menyehatkan organ pencernaan.
Susu kedelai banyak kita jumpai di pasaran di warung hingga di supermarket. Produsen susu kedelai ada yang merupakan olahan pabrikan atau home industri. Agar pemasarannya luas, maka produk susu kedelai dikemas dengan kemasan plastik yang aman, dengan disertai label dengan desain yang menarik.  
Membuat susu kedelai relatif mudah, namun penting diperhatikan bagaimana membuat susu kedelai yang tidak langu dan berasa segar dan nikmat. Dalam proses pembuatan susu kedelai ini, pemanasan filtrat atau hasil saringan kedelai harus selalu diperhatikan. Cara membuat susu kedelai agar tidak langu itu cukup simpel, selama proses pemanasan, filtrat perlu diaduk terus sambil ditambahkan gula dan perasa (essens), seperti rasa moka, vanili, dan lain sebagainya.
Tujuan dari pengadukan adalah untuk bisa menghacurkan gula dan meratakan perasa, serta mencegah mendidihnya filtrat. Karena kalau filtratnya sampai mendidih, protein yang terkandung di dalam kedelai akan pecah atau rusak, sehingga susunya menjadi menggumpal, dan juga tidak bisa bertahan lama karena mudah terjadi pembusukan.
Langkah Dasar Membuat Susu Kedelai Murni
Langkah pertama adalah mencuci kacang kedelainya terlebih dahulu dengan air bersih, lalu rendam selama 5 jam sampai ukurannya jadi membesar dan terasa empuk. Setelah itu, bersihkan kulit arinya, dan juga hilangkan dari segala macam kotoran. Kemudian kedelai yang sudah direndam tadi dimasukkan ke dalam blender, lalu tambahkan air dengan perbandingan kira-kira 1:3, 1 mangkuk kedelai dicampurkan dengan 3 mangkuk air. Blender kacang kedelai sampai halus lalu saring dengan menggunakan kain putih atau kain kasa atau saringan yang lubangnya kecil. Bisa juga dilakukan blender dan penyaringan berulang dari 3 bagian air agar sari kedelainya keluar lebih banyak. Selanjutnya adalah perebusan. Tujuannya itu untuk membersihkan dari kuman, menambah khasiat bagi tubuh, serta mengurangi aroma kedelai yang masih langu. Pada tahap perebusan ini, kita bisa menambahkan bahan-bahan sesuai dengan keinginan, seperti daun pandan atau vanili, jahe, bubuk coklat, gula, sedikit garam, dan lainnya. Minuman ini cocok disajikan selagi hangat ataupun didinginkan terlebih dahulu di kulkas.

Cara Membuat Susu Kedelai Agar Tidak Langu
Bahan-bahan
a)      ½ kg kacang kedelai
b)      1 bungkus vanili
c)      Gula pasir secukupnya
d)     Garam secukupnya

Alat-alat
1)      Kompor
2)      Blender / mesin susu kedelai
3)      Panci
4)      Saringan

Cara Membuat Susu Kedelai Sederhana
1.      Pertama, siapkan kacang kedelai yang akan diolah, sortasi, dan cuci bersih dengan menggunakan air mengalir, bersihkan dari segala kotoran.
2.      Setelah itu rebus kacang kedelai kurang lebih selama 15 menit.
3.      Kemudian angkat rebusan kedelai, setelah itu rendam dengan menggunakan air bersih semalaman supaya terasa lunak dan kulit airnya mengelupas dengan mudah. Lalu tiriskan.
4.      Blender dengan ditambahkan air secukupnya.
5.      Tuang kacang kedelai yang sudah di blender ke dalam sebuah wadah, lalu tuangkan air mendidih secukupnya.
6.      Saring untuk bisa memisahkan ampasnya.
7.      Cara membuat susu kedelai agar tidak langu itu sebelum bisa dikonsumsi, ada baiknya susu kedelai yang sudah disaring tadi dimasak terlebih dahulu sampai mendidih untuk menghilangkan bakteri-bakteri jahat penyebab kuman, dan tentunya untuk membuat susu kedelai tidak langu.
8.      Setelah rebusan susu kedelainya mulai mendidih, kecilkan api sambil terus mengaduk susu kedelainya selama kurang lebih 15 menit. Tahap perebusan ini sangat penting supaya sari-sari yang dimiliki kedelai tidak mengendap, selain itu juga untuk membuat susu kedelai buatan Anda tahan lama. Kita juga bisa menambahkan garam dan gula sesuai dengan selera Anda. Untuk menambah lezat aromanya, Anda juga bisa menambahkan vanili.

B. Manfaat Susu Kedelai Untuk Kesehatan
1.) Menurunkan Kolesterol
Berdasarkan hasil penelitian, susu kedelai memiliki kadar lemak jenuh yang rendah, karena sebagian besar lemaknya tek jenuh dan non-kolesterol, berbeda dengan susu sapi yang memiliki kandungan lemak jenuh yang tinggi. Asam lemak tak jenuh tunggal dan tak jenuh ganda dalam kedelai bisa menghambat pengangkutan kolesterol ke dalam aliran darah. Asupan kedelai yang rutin secara signifikan bisa menurunkan kadar kolesterol jahat dalam darah. Jadi, susu kedelai aman untuk dikonsumsi sehari-hari.
2.) Menurunkan Berat Badan
Secangkir susu sapi memiliki sekitar 12 gram gula, sedangkan susu kedelai hanya 7 gram. Inilah alasannya kenapa jumlah kalori dalam satu cangkir susu kedelai jauh lebih sedikit kalau dibandingkan dengan susu sapi. Asam lemak tak jenuh tunggal dalam susu kedelai terbukti bisa menghambat penyerapan lemak di usus. Selain itu, minum susu kedelai bisa memberikan efek kenyang lebih lama. Jadi aman bagi Anda yang sedang diet.
3.) Mencegah Osteoporosis
Susu kedelai kaya akan kandungan gizi yang menyehatkan. Kandungan fitoestrogen dalam susu kedelai bisa membantu mempercepat penyerapan kalsium oleh tubuh dan juga mencegah hilangnya massa tulang.
4.) Sumber Protein
Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, susu kedelai memiliki kandungan protein yang cukup tinggi yang sangat dibutuhkan oleh tubuh kita, terutama pada masa pertumbuhan. Susu kedelai memiliki kandungan protein yang jumlahnya hampir sama dengan susu sapi. Susu kedelai juga mengandung protein nabati yang bisa mencegah kerapuhan tulang belakang atau yang biasa disebut dengan ‘osteoporosis’.
5.) Baik Untuk Jantung
Lemak jenuh yang tinggi akan meningkatkan kadar kolesterol buruk serta bisa meningkatkan resiko jantung. Susu kedelai dipercaya sangat baik untuk kesehatan jantung karena jumlah lemak jenuh pada susu kedelai sangat sedikit. Karena susu kedelai tidak mengandung kolesterol, jadi aman bagi Anda yang takut kegemukan.
6.) Mencegah Diabetes Melitus
Diabetes Melitus muncul karena tubuh kekurangan Insulin yang akan mengakibatkan kelainan metabolisme karbohidrat, protein, lemak, air, dan elektrolit. Susu kedelai yang mengandung Asam Amino Glisin dan Asam Amino Arginin mampu menjaga keseimbangan Hormon Insulin. Selain itu, protein dalam susu kedelai lebih mudah diterima organ ginjal dibandingkan dengan protein hewani. Karena itu Susu Kedelai baik dikonsumsi oleh penderita Diabetes Melitus.
7.) Minuman Untuk Vegetarian
Bagi Anda para vegetarian, susu kedelai menjadi pilihan yang tepat untuk bisa mendapatkan sumber gizi yang tinggi tanpa harus mengkonsumsi makanan hewani. Selain enak dan menyegarkan, nilai gizinya tidak kalah dengan susu sapi. Susu kedelai merupakan minuman sumber vitamin (B1,B2,B6, dan provitamin A), sumber mineral (Kalsium, Magnesium, Selenium, Fosfor), sumber Karbohidrat, sumber Protein, dan sumber lemak.
8.) Mencegah Kanker
Susu Kedelai merupakan salah satu minuman kesehatan sumber mineral, selenium, Vitamin E, Isoflavon, dan Asam Amino Triptopan. Untuk mengatasi paparan radikal bebas pemicu, kanker diperlukan zat atau senyawa yang berfungsi sebagai anti-oksidan. Selain Selenium, anti-oksidan pada Susu Kedelai adalah Vitamin E dan Genistein, yang secara sinergis mampu menghalau kanker.
9.) Mencegah Penuaan Dini
Bagi setiap orang, menjadi tua adalah sebuah kepastian yang sebenarnya tidak perlu ditakutkan. Salah satu cara yang diyakini paling ampuh menangkal penuaan dini adalah dengan mengandalkan Anti Oksidan yang bersumber dari makanan atau minuman, dan anti-oksidan itu salah satunya bisa Anda dapatkan di susu kedelai.
Mengkonsumsi makanan atau minuman sumber anti-oksidan merupakan pilihan bijak, sekaligus pilihan tepat untuk mengatasi penuaan dini. Anti oksidan umumnya berasal dari golongan vitamin dan mineral; diantaranya vitamin B, E, C, Beta-Karoten, Chromium, Selenium, Kalsium, Tembaga, Magnesium, dan Isoflavon.
10.) Baik Untuk Hati

Kandungan lemak jenuh dalam susu kedelai sangat kecil terutama lemak jenuh tunggal dan tak jenuh ganda. Selain itu susu kedelai juga tidak mengandung kolesterol sehingga sangat baik dikonsumsi orang yang menderita penyakit koroner.

Aplikasi Biosekuriti Pada Peternakan Unggas







Jual Aspergillus niger untuk fermentasi pakan, Probiotik
Telp. 087875885444


Biosekuriti adalah merupakan praktik manajemen yang bertujuan mengurangi potensi transmisi perkembangan organisme patogen (virus, bakteri, fungi) yang menyerang hewan dan  manusia. Biosekuriti terdiri dari dua elemen penting yaitu bio-kontaimen dan bio-ekslusi. Bio-kontaimen adalah pencegahan terhadap datangnya virus terinfeksi dan bio ekslusi adalah menjaga supaya virus yang ada tidak keluar atau menyebar (WHO 2008b).  Biosekuriti peternakan unggas adalah suatu konsep yang merupakan bagian integral dari suksesnya sistem produksi suatu peternakan unggas, khususnya ayam petelur dalam mengurangi risiko dan konsekuensi dari masuknya penyakit infeksius terhadap unggas maupun manusia (Payne 2000). Biosekuriti adalah suatu sistem untuk mencegah penyakit baik klinis maupun subklinis, termasuk penyakit-penyakit zoonosa, yang merupakan sistem untuk mengoptimalkan produksi unggas secara keseluruhan dan bagian dari kesejahteraan hewan. Menurut Shulaw dan Bowman (2001), biosekuriti adalah semua praktek-praktek manajemen yang diberlakukan untuk mencegah organism penyebab penyakit ayam dan zoonosis yang masuk dan keluar peternakan.
Tujuan utama dari penerapan biosekuriti adalah; meminimalkan keberadaan penyebab penyakit, meminimalkan kesempatan agen berhubungan dengan induk semang membuat tingkat kontaminasi lingkungan oleh agen penyakit seminimal mungkin ( Zainuddin dan Wibawan, 2007). Menurut Dirjen Peternakan (2005) tujuan dari biosekuriti adalah mencegah semua kemungkinan penularan dengan peternakan tertular dan penyebaran penyakit. Penerapan biosekuriti pada seluruh sektor peternakan, baik di industri perunggasan atau peternakan lainnya akan mengurangi risiko penyebaran mikroorganisme penyebab penyakit yang mengancam sektor tersebut. Meskipun biosekuriti  bukan satu – satunya upaya pencegahan terhadap serangan penyakit, namun biosekuriti merupakan garis pertahanan pertama terhadap penyakit (Cardona, 2005). Biosekuriti sangat penting untuk mengendalikan dan mencegah berbagai penyakit yang mematikan. Biosekuriti dapat digambarkan sebagai satu set program kerja dan prosedur yang akan mencegah atau membatasi hidup dan menyebarkanhamadan jasad renik berbahaya diberbagai tempat seperti peternakan tempat penampungan hewan dan rumah potong hewan.
Program biosekuriti meliputi pengendalian pergerakan hewan, peralatan, orang – orang dan sarana pengangkutan dari luar dan ke farm yang satu ke farm yang lain. Pemisahan jenis unggas, burung liar, binatang pengerat dan binatang  yang diasingkan secara geografis untuk memperkecil penyebaran penyakit. Vaksinasi untuk meningkatkan sistem imunitas. Pemeriksaan prosedur untuk mengurangi infeksi /peradangan jasad renik berbahaya dan pengobatan untuk mencegah atau perlakuan hasil bakteri atau protozoa penyakit. Pengendalian serangga yang dapat menyebabkan penyakit. Penerapan disinfeksi dan prosedur yang higienis untuk mengurangi tingkat infeksi membasmi mikroorganisme berbahaya dan pengobatan untuk mencegah dan mengobati penyakit bakteri dan protozoa (Grimes danJackson, 2001). Biosekuriti pada peternakan dapat dilakukan dengan; lokasi peternakan berpagar dengan satu pintu masuk, rumah tempat tinggal, kandang unggas serta kandang hewan lainnya ditata pada lokasi terpisah, pembatasan secara ketat terhadap keluar masuk material (hewan/unggas, produk unggas, pakan, kotoran unggas, alas kandang, litter, rak telur) yang dapat membawa agen penyakit, pembatasan secara ketat keluar masuk orang/tamu/pekerja dan kendaraan dari atau ke lokasi peternakan, setiap orang yang masuk atau keluar peternakan harus mencuci tangan dengan sabun atau desinfektan, mencegah keluar masuknya tikus (rodensia), serangga atau unggas lain seperti burung liar yang dapat berperan sebagai vektor penyakit ke lokasi peternakan,  unggas dipisahkan berdasarkan spesiesnya,         kandang, tempat pakan/minum, sisa alas kandang/litter dan kotoran kandang dibersihkan secar teratur,  tidak membawa unggas sakit atau bangkai unggas keluar dari area peternakan, unggas yang mati harus dibakar atau dikubur, kotoran unggas diolah terlebih dahulu sebelum keluar dari area peternakan,  air kotor hasil sisa pencucian langsung dialirkan keluar kandang secara terpisah melalui saluran limbah ke tempat penampungan limbah (septik tank) sehingga tidak tergenang di sekitar kandang atau jalan masuk kandang.
Menurut Jeffrey (1997), penerapan biosekuriti pada peternakan petelur dibagi menjadi tiga bagian utama, yaitu (1) isolasi, (2) pengendalian lalu lintas, dan (3) sanitasi.
1. Isolasi
Isolasi mengandung pengertian penempatan atau pemeliharaan hewan di dalam lingkungan yang terkendali. Pengandangan atau pemagaran kandang akan menjaga dan melindungi unggas serta menjaga masuknya hewan lain ke dalam kandang. Isolasi ini diterapkan juga dengan memisahkan ayam berdasarkan kelompok umur. Selanjutnya, penerapan manajemen all-in/all-out pada peternakan besar mempraktekan depopulasi secara berkesinambungan, serta memberi kesempatan pelaksanaan pembersihan dan disinfeksi seluruh kandang dan peralatan untuk memutus siklus penyakit (Jeffrey 1997).
2. Pengendalian lalu lintas
Pengendalian lalu lintas ini diterapkan terhadap lalu lintas ke peternakan dan lalu lintas di dalam peternakan. Pengendalian lalu lintas ini diterapkan pada manusia, peralatan, barang, dan bahan. Pengendalian ini data berupa penyediaan fasilitas kolam dipping dan spraying pada pintu masuk untuk kendaraan , penyemprotan desinfektan terhadap peralatan dan kandang, sopir, penjual, dan petugas lainnya dengan mengganti pakaian ganti dengan yang pakaian khusus. Pemerikasaan kesehatan hewan yang datang serta adanya Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH).  (Jeffrey 1997).
3. Sanitasi
Sanitasi ini meliputi praktek disinfeksi bahan, manusia, dan peralatan yang masuk ke dalam peternakan, serta kebersihan pegawai di peternakan (Jeffrey 1997). Sanitasi meliputi pembersihan dan disinfeksi secara teratur terhadap bahan – bahan dan peralatan yang masuk ke dalam peternakan. Pengertian disinfeksi adalah upaya yang dilakukan untuk membebaskan media pembawa dari mikroorganisme secara fisik atau kimia, antara lain seperti pembersihan disinfektan, alkohol, NaOH, dan lain-lain (Anonymous, 2000).
Sanitasi peternakan meliputi kebersihan sampah, feses dan air yang digunakan. Air yang digunakan untuk konsumsi dan kebutuhan lainnya harus memenuhi persyaratan air bersih (Depkes, 2001). Jika digunakan air tanah atau dari . Salah satu perlakuan air yang umum dilakukan adalah dengan menambahkan klorin 2 ppm. Untuk menjamin bahwa air tersebut memenuhi syarat air bersih, maka perlu dilakukan pemeriksaan laboratorium secara berkala, minimum 1 tahun sekali. Klorin berguna untuk mematikan mikroorganisme yang terkandung dalam sumber air. Air merupakan media pembersih selama proses sanitasi serta merupakan bahanbakupada proses pengolahan pangan (Depkes, 2001). Air juga dapat sebagai sumber pencemar. Jika air tercemar, perlu dicari alternatif sumber air lain atau air tersebut harus diolah dengan metode kimia atau metode lainnya. Sumber pencemar lain adalah udara di sekitarnya (Marriott, 1999).
Pangan dapat tercemar oleh mikroorganisme pada udara selama proses, pengemasan, penyimpanan dan penyiapan. Cara yang efektif untuk mengurangi pencemaran mikroorganisme dari udara antara lain praktek higiene, penyaringan udara yang masuk ke ruang proses, dan penerapan metode pengemasan yang baik (Marriott, 1999).
Intensitas pengambilan sampah dan limbah peternakan (kotoran ayam) dilakukan pada periode tertentu secara teratur, karena dapat mengundang lalat atau insekta lain serta tumpukan sampah dapat menjadi sumber pencemaran di peternakan (Jeffrey, 1997).

Praktek Disinfeksi
            Menurut Gernat (2004), disinfeksi merupakan hal yang sangat penting menjaga biosekuriti di area peternakan. Disinfeksi pada peternakan ditunjang adanya fasilitas disinfektan, seperti kolam dipping dan spraying. Kolam dipping digunakan untuk merendam sepatu bot ataupun roda kendaraan yang akan masuk ke dalam peternakan. Tempat spraying digunakan untuk mendisinfeksi tubuh dari orang yang akan masuk ke dalam wilayah peternakan. Semua peralatan yang berasal dari luar peternakan hendaknya diisolasikan terlebih dahulu dalam ruangan yang tertutup sempurna selama dua hari. Dalam ruangan ini, benda-benda tersebut difumigasi. Setelah dilakukan fumigasi, kemudian diuji terhadap kontaminan oleh seorang staf ahli (EF, 2003).
Penggunaan disinfektan harus memperhatikan kandungan disinfektan tersebut sehingga disinfektan tidak salah penggunaannya dan sesuai dengan syarat disinfektan yang baik, yaitu aman, efektif dan efisien (Smith, 2001). Klasifikasi disinfektan dan disinfektan yang sering digunakan.

Biosekuriti Sumber Ayam
            Ayam hidup yang akan masuk ke dalam peternakan berpotensi membawa agen penyakit. Oleh sebab itu, ada beberapa hal yang harus diperhatikan terhadap sumber ayam yang akan masuk ke dalam wilayah peternakan, yaitu: 1) Ayam yang datang berasal dari peternakan atau peternakan bibit yang bebas penyakit. Ayam yang boleh masuk ke area kandang adalah yang telah diperiksa oleh dokter hewan dan hasilnya harus negatif dari keberadaan agenagen patogen dalam unggas tersebut (Shulaw dan Bowman 2001), 2) Ayam yang datang harus disertai Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH) yang dikeluarkan oleh Dinas yang membawahi Kesehatan Hewan dan ditandatangani oleh dokter hewan yang terkait (Anonymous 1977), 3) Ayam yang akan masuk ke area peternakan diisolasi terlebih dahulu dalam ruang tertutup sempurna agar tidak ada agen-agen penyakit yang dapat keluar atau masuk ke area isolasi (Shulaw dan Bowman 2001).

Biosekuriti terhadap Hewan Penggangu
            Beberapa hewan yang potensial sebagai hewan penganggu adalah unggas/burung liar, tikus, dan insekta (Hanson 2002). Hal yang harus diperhatikan oleh pemilik ataupun pekerja peternakan (EF 2003), yaitu: 1) Tidak diperbolehkan mempunyai/merawat unggas lain, babi, dan segala hewan yang bisa menimbulkan risiko penyakit atau bahaya terhadap ayam (tikus dan unggas liar merupakan vektor yang potensial), 2) Melakukan pencegahan khusus setelah kontak dengan hewan lain sebelum masuk atau kontak dengan unggas. Pada penerapan sistem hazard analysis critical control point (HACCP) di peternakan ayam, salah satu titik kendali kritis (critical control point/CCP) adalah adanya pemantauan harian terhadap burung liar dan rodensia di sekitar area kandang ayam. Dalam program dan prosedur biosekuriti dilakukan pemisahan unggas terhadap jenis unggas lain, spesies bukan unggas, termasuk burung liar, rodensia, dan hewan-hewan lainnya (Grimes 2001). Menurut Kuney (1999), pakan bisa menjadi sumber datangnya bangsa rodensia dan unggas liar. Oleh karena itu, tikus dan unggas liar dicegah agar tidak menjangkau pakan.
Pada dasarnya tidak semua yang disebutkan tadi berbahaya karena juga tergantung spesies hewan tersebut, penyakit yang dibawanya, dan resistensi ayam ternak terhadap penyakit yang dibawa hewan-hewan liar tersebut. Namun, karena ketidakmungkinan setiap hewan yang masuk diperiksa satu per satu, lebih baik dicegah sedini mungkin agar hewan-hewan tersebut tidak memasuki wilayah peternakan (Soeroso, komunikasi pribadi, 14 Juli 2007). Jadi, sebisa mungkin meminimalisasi paparan mikroorganisme berbahaya terhadap ayam (Kuney 1999).

Biosekuriti Peti Telur
            Peti telur yang berasal dari luar peternakan sangat tidak boleh masuk ke dalam area peternakan. Hal ini bertujuan untuk mencegah agen-agen pathogen ataupun yang berbahaya mengkontaminasi area dalam peternakan. Peti telur bekas yang terbuat dari kayu dapat membawa mikroba dari peternakan lain sehingga mampu menulari ayam yang berada dalam peternakan. Bahan kayu sangat sukar untuk didisinfeksi dan sebaiknya tidak digunakan untuk peralatan dalam peternakan, termasuk peti telur (Marriott 1999).

Biosekuriti Tamu dan Pekerja Peternakan
            Penerapan biosekuriti dalam pengawasan lalu lintas manusia (EF 2003) meliputi: 1) karyawan atau orang yang terlibat di bisnis peternakan pembibitan ayam tidak diperbolehkan memelihara burung atau ayam di rumahnya. Begitu pula untuk peternakan komersial, 2) Orang yang akan masuk kedalam peternakan, sebelumnya tidak mengunjungi peternakan pada tingkat di bawahnya (peternakan komersial, processing dan lain-lain) yang status higienenya tidak diketahui, minimum dua hari setelah kunjungan tersebut, 3) tamu sebaiknya tidak mengunjungi peternakan bibit tetua (grand parent), kecuali profesional (ahli) yang berhubungan dengan peternakan bibit tetua (grand parent) tersebut.Aspek sanitasi ini berkaitan erat dengan penerapan higiene. Yang harus diperhatikan adalah menjaga agar jangan ada kontaminan yang masih menempel pada tubuh sehingga dapat menulari ayam di kandang. Hal ini dapat diterapkan dengan mencuci tangan, mengganti baju yang kotor, melakukan dipping sepatu bot dan spraying seluruh anggota badan (Stanton, 2004).
Orang yang memasuki lokasi peternakan diharuskan mengikuti persyaratan sanitasi peternakan, yaitu disinfeksi dengan spray, mandi, mengganti baju, dan alas kaki khusus. Hal ini berlaku juga untuk sanitasi bagi barang (disinfeksi dengan cairan disinfektan).
Biosekuriti Ayam Sakit/Mati
            Ayam yang sakit/mati dapat menjadi sumber penyakit berbahaya bagi ayam sehat yang berdekatan. Oleh karena itu, ayam yang sakit/mati harus segera dikeluarkan dan dipisahkan sejauh mungkin dari kandang ayam sehat sehingga tidak menulari ayam yang sehat. Ayam yang sakit/mati segera diisolasikan dan didiagnosa di laboratorium oleh dokter hewan peternakan untuk segera diketahui penyakitnya. Setelah itu, ayam tersebut harus segera dibakar di krematorium (Hanson 2002).

Higiene Peternakan Telur
            Higiene adalah segala upaya yang berhubungan dengan masalah kesehatan serta berbagai usaha untuk mempertahankan atau untuk memperbaiki kesehatan. Hal ini diatur dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2004 tentang Keamanan, Mutu dan Gizi Pangan (Anonymous 2004). Pengertian higiene pangan adalah semua kondisi dan tindakan untuk menjamin keamanan dan kelayakan makanan pada semua tahap dalam rantai makanan (CAC 1997). Keamanan pangan (food safety) adalah jaminan agar bahan makanan tidak membahayakan konsumen pada saat disiapkan dan/atau dimakan menurut kebutuhannya (CAC 1997). Sedangkan, menurut pemerintah, keamanan pangan adalah kondisi dan upaya yang diperlukan untuk mencegah pangan dari kemungkinan cemaran biologis, kimia dan benda lain yang dapat mengganggu, merugikan dan membahayakan kesehatan manusia (Anonymous 1996). Kelayakan Pangan (food suitability) adalah jaminan agar bahan makanan dapat diterima untuk konsumsi manusia menurut kebutuhannya (CAC 1997).Dalam suatu peternakan, praktek higiene yang baik wajib diterapkan pada penanganan telur, karena telur termasuk pangan yang berpotensi membawa agenagen patogen (misalnya Salmonella Enteritidis) dan termasuk pangan yang mudah rusak (PCFS 1999).

Biosekuriti Bangunan
            Bangunan yang didirikan dalam suatu area peternakan hendaknya menggunakan bahan-bahan yang mudah dibersihkan dan didisinfeksi, serta tahan terhadap tumbuhnya kapang (Marriott 1999). Begitu juga untuk disain bangunan dalam suatu peternakan, harus memperhatikan kegunaan dari bangunan tersebut (Hanson 2002). Gudang pakan harus memperhatikan suhu dan kelembaban, serta aliran udara yang baik, sehingga menghindari tumbuhnya kapang. Jika untuk gudang telur, diperhatikan kelembabannya tidak lebih dari 80% dengan suhu 12- 15°C (Sudaryani 1996).

Biosekuriti Fasilitas
            Fasilitas yang direncanakan secara baik dengan tataletak (layout) tepat sangat penting untuk kelancaran operasional di unit usaha pangan. Tataletak, disain, dan fasilitas secara langsung mempengaruhi (1) keselamatan dan produktivitas pekerja, (2) biaya pekerja dan energi, (3) kepuasan pelanggan. Semakin baik fasilitas unit usaha direncanakan, maka semakin mudah pencapaian keamanan pangan dan perolehan keuntungan (McSwane et al. 2000). Fasilitas dalam area peternakan harus menunjang penerapan higiene di peternakan tersebut. Area kandang sebaiknya ditanami rumput dengan kualitas bagus. Rumput ini berguna untuk mengurangi panas dengan cara memantulkan panas yang dapat timbul ketika udara sangat panas di area kandang. Kegunaan lainnya adalah mencegah erosi langsung tanah di area tersebut yang bisa menyebabkan kerusakan kandang/bangunan (Berry 2003). Pepohonan sebaiknya tidak terlalu banyak di area kandang karena dapat mengganggu sirkulasi udara area kandang. Untuk fasilitas listrik, diatur agar intensitas cahaya cukup di area kandang dan gudang pakan/telur (Berry 2003).

Biosekuriti Peralatan
            Setiap pekerja atau orang di unit usaha pangan bertanggung jawab menjaga segala sesuatu tetap bersih dan saniter. Pembersihan peralatan yang efektif mengurangi peluang terjadinya kontaminasi selama penyiapan, penyimpanan, dan penyajian. Pembersihan berarti penghilangan kotoran-kotoran yang kasat mata (visible) dari permukaan peralatan dan bahan. Saniter berarti sehat atau higienis. Hal ini mencakup pengurangan sejumlah mikroorganisme patogen pada permukaan peralatan dan bahan sampai tingkat aman bagi kesehatan. Sesuatu yang saniter tidak memiliki risiko bagi kesehatan manusia (McSwane et al. 2000). Peralatan yang terdapat di dalam area peternakan dianjurkan menggunakan bahan yang mudah untuk dibersihkan dan didisinfeksi. Hindarkan peralatan dengan menggunakan bahan kayu karena bahan ini sukar untuk didisinfeksi. Bahan yang dianjurkan adalah yang menggunakan plastik atau stainless steel karena kedua bahan ini mudah dibersihkan dan tidak cepat rusak (Marriott 1999).

Higiene Personal
            Menurut Marriott (1999), kata higiene digunakan untuk menggambarkan penerapan prinsip-prinsip kebersihan untuk perlindungan kesehatan manusia. Higiene personal mengacu kepada kebersihan tubuh perseorangan. Manusia merupakan sumber potensial mikroorganisme yang dapat menyebabkan penyakit pada manusia. Pegawai dapat memindahkan mikroorganisme yang dapat menyebabkan penyakit. Kenyataannya, manusia merupakan sumber utama pencemaran pangan. Tangan, nafas, rambut, dan keringat dapat mencemari pangan. Pemindahan mikroorganisme fekal manusia dan hewan melalui karyawan merupakan sumber potensial mikroorganisme patogen yang dapat masuk ke dalam rantai pangan. Karyawan yang sakit tidak diperkenankan kontak dengan pangan, peralatan, dan fasilitas.
Penyakit manusia yang dapat ditularkan melalui pangan adalah penyakit saluran nafas seperti demam, radang tenggorok, pneumonia, scarlet fever, dan tuberkulosis; gangguan pencernaan; disentri; demam tifoid; serta hepatitis infeksius. Pada beberapa penyakit, mikroorganisme penyebab penyakit masih dapat bertahan/tinggal pada penderita setelah sembuh. Orang dengan kondisi demikian disebut carrier. Karyawan yang sakit berpotensi sebagai sumber pencemar. Staphylococcus biasanya terdapat di sekitar bisul, jerawat, karbunkel, luka yang terinfeksi, serta mata dan telinga. Infeksi pada sinus, radang tenggorok, batuk terus-menerus, serta gejala penyakit dan demam merupakan gambaran bahwa mikroorganisme meningkat. Prinsip tersebut perlu diterapkan pada saluran pencernaan seperti diare. Bahkan setelah sembuh, mikroorganisme masih dapat berada dalam tubuh yang merupakan sumber pencemaran, contohnya Salmonellae dapat bertahan beberapa bulan setelah penderita sembuh. Virus hepatitis masih dapat dijumpai pada saluran pencernaan sampai lebih darilima tahun setelah gejala penyakit. Di bawah ini akan dibahas beberapa bagian tubuh manusia yang merupakan sumber pencemaran mikroorganisme.

Biosekuriti Higiene Penanganan Telur
            Menurut PCFS (1999), sebaiknya saat pengumpulan telur di kandang, telur yang utuh dan baik dikumpulkan dengan menggunakan baki telur plastik (egg tray) yang dipisahkan dengan telur yang retak/kotor. Hal ini dilakukan untuk mencegah telur yang baik terkontaminasi agen patogen yang mungkin terdapat pada telur kotor/retak. Perlakuan yang dapat diterapkan terhadap telur yang kotor adalah dengan cara dilap, tanpa dicuci terlebih dahulu. Pada gudang penyimpanan telur, telur disimpan pada egg tray terbuat dari plastik yang telah dibersihkan dan didisinfeksi, atau jika tidak ada, telur dapat diletakkan di dalam peti kayu baru dengan sekam yang telah didisinfeksi, terpisah dengan telur yang retak/rusak. Telur yang retak harus segera digunakan. Baki telur diletakkan di atas palet plastik setinggi minimum 15 cm dari permukaan lantai dan berjarak minimum 15 cm dari dinding. Menurut McSwane et al.(2000) penyimpanan pangan pada area gudang kering pada permukaan datar yang berjarak minimum 6 inch (15.24 cm) dari permukaan lantai dan dinding. Hal ini bertujuan untuk memudahkan pembersihan lantai dan dinding, mencegah seranganhama, serta memberikan sirkulasi udara yang baik terhadap produk.

Sanitasi Peternakan Petelur

            Sanitasi berasal dari kata latin sanitas yang berarti sehat. Sanitasi adalah upaya pencegahan terhadap kemungkinan berkembangbiaknya mikroba pembusuk dan patogen dalam makanan, minuman, peralatan, dan bangunan yang dapat merusak pangan asal hewan dan membahayakan kesehatan manusia (Marriott 1999). Sanitasi berkaitan erat dengan disinfeksi. Sanitasi yang diterapkan pada peternakan unggas meliputi praktek disinfeksi bahan, manusia, dan peralatan yang masuk ke dalam peternakan, serta kebersihan pegawai di peternakan (Jeffrey 1997).
Pengertian disinfeksi adalah upaya yang dilakukan untuk membebaskan media pembawa dari mikroorganisme secara fisik atau kimia, antara lain seperti pemberian disinfektan, alkohol, NaOH, dan lain-lain (Anonymous 2000). Sanitasi peternakan meliputi kebersihan sampah, feses, dan air yang digunakan. Air yang digunakan untuk konsumsi dan kebutuhan lainnya harus memenuhi persyaratan air bersih (Depkes 2001). Jika digunakan air tanah atau dari sumber lain, maka air harus diperlakukan sedemikian rupa sehingga memenuhi persyaratan air bersih.
Salah satu perlakuan air yang umum dilakukan adalah dengan menambahkan klorin 2 ppm. Untuk menjamin bahwa air tersebut memenuhi syarat air bersih, maka perlu dilakukan pemeriksaan laboratorium secara berkala, minimum 1 tahun sekali. Klorin berguna untuk mematikan mikroorganisme yang terkandung dalam sumber air. air merupakan media pembersih selama proses sanitasi serta merupakan bahanbakupada proses pengolahan pangan (Depkes 2001). Air juga dapat sebagai sumber pencemar. Jika air tercemar, perlu dicari alternatif sumber air lain atau air tersebut harus diolah dengan metode kimia atau metode lainnya. Sumber pencemar lain adalah udara di sekitarnya (Marriott 1999).
Pangan dapat tercemar oleh mikroorganisme pada udara selama proses, pengemasan, penyimpanan, dan penyiapan. Cara yang efektif untuk mengurangi pencemaran mikroorganisme dari udara antara lain praktek higiene, penyaringan udara yang masuk ke ruang proses, dan penerapan metode pengemasan yang baik (Marriott 1999). Intensitas pengambilan sampah dan limbah peternakan (kotoran ayam) dilakukan pada periode tertentu secara teratur, karena dapat mengundang lalat atau insekta lain serta tumpukan sampah dapat menjadi sumber pencemaran di peternakan (Jeffrey 1997).

 DAFTAR PUSTAKA
Anonymous. 1967. Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1967 tentang Ketentuanketentuan
Pokok Peternakan dan Kesehatan Hewan. Bab I Pasal 8.
Anonymous. 1977. Peraturan Pemerintah RI Nomor 15 Tahun 1977 tentang Penolakan,           Pencegahan, Pemberantasan, dan Pengobatan Penyakit Hewan. Bab II Pasal 3.
Anonymous. 2000. Katalog Produk.Jakarta: Agro makmur Sentosa.
Anonymous. 2007. Poultry health and disease. [terhubung berkala].       http://www.thepoultrysite.com. [5 Juni 2011]
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2001. Kumpulan Modul Kursus Penyehatan  Makanan Bagi Pengusaha Makanan dan Minuman Jakarta: Yayasan Pesan.
[Depkes] Departemen Kesehatan RepublikIndonesia. 2001. Kumpulan Modul Kursus Penyehatan Makanan bagi Pengusaha Makanan dan Minuman.Jakarta: Yayasan Pesan.
Direktorat Jenderal Peternakan. 2005. Bagaimana Terhindar dari Flu Burung (Avian      Influenza).Jakarta.
 [Dit Kesmavet] Direktorat Kesehatan Masyarakat Veteriner. 2006. Buku Pedoman    Nomor Kontrol Veteriner Unit Usaha Pangan Asal Hewan. Jakarta: Direktorat          Kesehatan Masyarakat Veteriner, Direktorat Jenderal Peternakan, Departemen      Pertanian.

[EF] Euribrid Farm. 2003. Biosecurity Requirements for Poultry-Farms. Boxmeer:    Euribrid.
Gernat A. 2000. Poultry farm biosecurity field manual. Cooperative Extension AG(651).         [terhubung berkala]. http://www.ncsu.edu.html [5 Juni 2011].
Grimes T. 2001. Biosecurity in egg industry. Rural Industries Research and     Development Corporation 1(102). [terhubung berkala]. http://www.rirdc.gov.au.    [5 Juni 2011].
Jeffrey JS. 1997. Biosecurity for poultry flocks. Poultry fact sheet 1(26). [terhubung    berkala]. http://www.vmtrc.ucdavis.edu.html [5 Juni 2011].
Kay RD, Edwards WM. 1994. Farm Management.Singapore: McGraw-Hill.
Kuney DR.1999. Guidelines for risk reduction of microbial introduction intopoultry       flocks and products. Poultry fact sheet 11a. [terhubung berkala].             http://animalscience.ucdavis.edu/extension/avian. [5 Juni 2011].
Marriott NG. 1999. Principles of Food Sanitation. 4th Ed.Gaithersburg,Maryland:  Aspen.
McGuire D, Scheideler SE. 2005. Biosecurity and the poultry flock. Nebfacts NF597.             [terhubung berkala]. http://www.usda.gov/extension/poultry. [5 Juni 2011].
McSwane D, Rue N, Linton R. 2000. Essentials of Food Safety and Sanitation. 2nd Ed.      UpperSaddleRiver: Prantice Hall.
Payne JB, Kroger EC, Watkins SE. 2002. Evaluation of litter treatments on Salmonella            recovery from poultry litter. J. Appl. Poult. Res. 11: 239-243.

Stanton, N. 2004. Biosecurity trifold. Maryland Department of Agriculture News 1(1). http://www.aphis.usda.gov/vs.html. [5 Juni 2011].

Penyakit Virus Pada Ayam







Ayam adalah hewan ternak yang rentan dengan serangan penyakit. Di antara berbagai jenis penyakit menular yang banyak mengancam hewan ternak disebabkan oleh virus. Penyakit yang disebabkan oleh virus merupakan jenis penyakit yang sangat ditakuti oleh para peternak. Virus lebih lembut dari bakteri, karena jasad renik ini bisa tembus dari saringan bakteri. Virus tidak bisa dilihat dengan mikroskop biasa. Untuk melihatnya secara jelas diperlukan foto dengan mempergunakan mikroskop elektron.
Penyakit virus mudah sekali menular. Baik secara kontak langsung maupun lewat perantara benda-benda lain. Misalnya udara, air minum, makanan, dan alat-alat peternakan yang tercemar. Di antara berbagai jenis penyakit akibat virus yang sering merugikan peternakan ayam antara lain adalah tetelo alias ND (New Cattle Desease), cacar unggas alias Fowl Pox, leukosis, lumpuh marek alias marek’s disease, gumboro alias infectious bursal disease, salesma ayam alias infectious laryngotracheitis, dan kini flu burung, dll. Berikut akan dijelaskan beberapa penyakit yang diakibatkan oleh virus.
1. Tetelo adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dari golongan Paramixovirus. Keganasannya tergantung dari strain atau tipenya. Penyakit ini menyerang alat pernafasan, susunan dan jaringan syaraf, serta alat-alat reproduksi telur. Yang ganas cepat sekali menular, dan seringkali menimbulkan kematian secara mendadak.
2. Cacar unggas adalah penyakit bercak-bercak kulit yang disebabkan oleh virus Borreliota avium. Menyerang rongga mulut, hulu tenggorokan, daerah sekitar mata, jengger dan pial. Selain secara kontak langsung, penyakit ini bisa meluar lewat perantaraan nyamuk dan lalat.

3. Leukosis adalah penyakit tumor menular yang bersifat menahun. Penyebabnya adalah virus leukosis. Gejala dimulai dengan timbulnya pertumbuhan abnormal pada sel-sel darah putih. Tumor yang menyerang jaringan syaraf akan menimbulkan kelumpuhan pada leher, sayap dan kaki. Yang menyerang mata akan membuat bentuk mata tidak normal, rabun atau buta sama sekali. Yang menyerang organ bagian dalam (hati, ginjal, limpa dan ovarium) akan membuat ayam berjalan tegak seperti itik, dan penyakitnya disebut big liver disease. Akibatnya hati akan membengkak 3 sampai 4 kali normal, kotorannya encer, tubuh kurus, jengger dan pial pucat berkerut.
4. Lumpuh marek adalah penyakit lumpuh yang disebabkan oleh virus herpes. Menyerang anak ayam berumur 1-5 bulan. Gejalanya ditandai kejang lumpuh dengan kaki satu ke depan dan kaki lainnya kebelakang. Selain itu juga menimbulkan pembesaran yang mencolok pada syaraf dan timbulnya tumor pada organ dalam, kulit dan otot.
5. Gumboro adalah penyakit yang menyerang bursa fabricii (kelenjar bulat terletak di atas kloaka), penyebabnya adalah virus gumbaro. Anak ayam umur 1-12 hari yang terkena penyakit ini tidak begitu nampak tanda-tandanya. Tapi anak ayam umur 3-6 minggu akan menunjukkan gejala yang khas. Anak ayam tampak lesu, mengantuk, bulu mengkerut, bulu sekitar dubur kotor, mencret keputih-putihan, dan duduk dengan sikap membungkuk. Suka mematuki duburnya sendiri, sehingga menimbulkan luka dan pendarahan. Ayam yang mati bangkainya cepat sekali membusuk.

6. Salesma ayam adalah penyakit yang disebabkan virus avium. Menyerang saluran pernafasan. Gejalanya sesat nafas, batuk-batuk, mata dan hidung meradang berair, dan sulit bernafas karena adanya lendir berdarah dalam rongga mulut. Bila benafas kepala ditegakkan, dan waktu mengeluarkan nafas kepala ditundukkan dengan mata terpejam. Penyakit ini bersifat akut. Obat yang efektif untuk menyembuhkan penyakit virus sampai saat ini belum ada. Tapi pengobatan dengan antibiotika atau kombinasi dengan obat-obatan lain tetap diperlukan untuk mencegah terjadinya komplikasi dengan penyakit yang lain. Dan karena tak adanya obat yang mampu menyembuhkan penyakit virus, alangkah bijaksananya sebelum penyakit berbahaya ini terjadi, peternak melakukan tindak pencegahan. Caranya antara lain adalah melakukan tata laksana pemeliharaan yang baik, melaksanakan vaksinasi pada saat yang tepat, dan hindarkan terjadinya stress pada ternak.

Sukses Budidaya Gaharu Dan Teknik Inokulasi









Jual Inokulan Gaharu (Fusarium solani)
Telp. 087875885444


                Gaharu adalah komoditas pertania yang memiliki nilai jual sangat tinggi. Tidak heran, saat ini banyak orang tertarik untuk melakukan budidaya tanaman gaharu. Tanaman gaharu secara umum mampu tumbuh dengan  baik di Indonesia. Di Indonesia petani gaharu banyak terdapat di daerah Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan lain-lain. Budidaya gaharu relatif mudah, hanya saja perlu mengetahui teknik inokulasi yaitu menyuntikan bibit cendawan / fungi yang dapat menginfeksi tanaman gaharu sehingga mengahasilkan gubal gaharu. Gubal gaharu inilah yang nilainya mahal. Untuk budidaya gaharu, berikut ini adalah langkah-langkahnya:
1. Pemilihan Bibit bibit pohon gaharu
Langkah awal dalam usaha budidaya tanaman gaharu adalah pemilihan bibit gaharu yang berkualitas. Pemilihan bibit yang berkualitas sangat penting karena akan mempengaruhi terhadap hasil budidaya kita. Untuk memilih bibit pohon gaharu yang berkualitas perhatikan hal-hal berikut: Pastikan bibit sehat atau tidak terserang hama, bibit memiliki diameter minimal 1 cm dan tinggi minimal 20 – 30 cm.

Ada beberapa jenis pohon gaharu yang tumbuh di Indonesia, diantaranya:
Aquilaria Beccariana Van Tiegh, jenis gaharu ini tumbuh secara alami di daerah Sumatera dan Kalimantan. Selain itu juga tumbuh di Semenanjung Malaya. Nama lain dari tumbuhan ini di dunia antara lain, Aquilaria cumingiana var. parviflora Airy Shaw, Aquilaria grandifolia Domke, dan Gyrinopsis grandifolia (Domke) Quisumb. Sementara itu di Indonesia terdapat beberapa nama daerah seperti, Mengkaras, Gaharu, dan Gumbil Nyabak. Oleh IUCN Red List, spesies ini dikategorikan sebagai Rentan (Vulnerable).
Aquilaria cumingian (Decne.) Ridl. Jenis gaharu ini tumbuh di pulau Morotai dan Halmahera, Maluku, serta di Filipina. Nama lain di dunia untuk pohon gaharu jenis ini adalah Aquilaria pubescens H. Hallier, Decaisnella cumingiana Kuntze, Gyrinopsis cumingiana Decne., Gyrinopsis cumingiana var. pubescens Elmer, Gyrinopsis decemcostata H. Hallier, dan Gyrinopsis pubifolia Quisumb. Oleh IUCN Red List, spesies ini dikategorikan sebagai Rentan (Vulnerable).
Aquilaria filaria (Oken) Merr. Di Indonesia Gaharu jenis ini tumbuh di Morotai, Seram,  Ambon, Nusa Tenggara, Papua. Selain itu juga tumbuh di Papua Nugini, dan Filipina. Nama lainnya adalah Aquilaria acuminata (Merr.) Quisumb., Aquilaria tomentosa Gilg, Gyrinopsis acuminata Merr., dan Pittosporum filarium Oken. Di Maluku disebut dengan pohon Las sedangkan di Papua dinamai pohon Age.
Aquilaria hirta Ridl. Di Indonesia jenis gaharu ini tumbuh di daerah Sumatera dan Semenanjung Malaya. Nama lainnya adalah Aquilaria moszkowskii Gilg.  Aquilaria malaccensis Benth. Jenis gaharu ini banyak tumbuh di Sumatera, Simalue, dan Kalimantan, Filipina (Luzon), India (Assam), Bangladesh, Myanmar, dan Malaysia (Semenanjung Malaya, Sabah, dan Serawak). Di Indonesia terdapat beberapa nama daerah untuk jenis gaharu ini seperti ahir, karas, gaharu, garu, halim, kereh, mengkaras dan seringak. Oleh IUCN Red List, spesies ini dikategorikan sebagai Rentan (Vulnerable).
Aquilaria microcarpa Baill. Pohon gaharu ini banyak tumbuh di Sumatera, Bangka, Belitung, dan Kalimantan, Malaysia (Semenanjung Malaya, Sabah, dan Serawak). Beberapa nama ilmiah tumbuhan ini diantaranya Aquilaria borneensis Van Tiegh. ex Gilg, Aquilariella borneensis Van Tiegh., dan Aquilariella microcarpa Van Tiegh. Nama daerah untuk di Indonesia adalah ntaba, tangkaras, engkaras, karas, dan garu tulang. Oleh IUCN Red List, spesies ini dikategorikan sebagai Rentan (Vulnerable).
Selain jenis di atas masih terdapat beberapa spesies lain yang tumbuh di dunia seperti: A. apiculata (Mindanao, Filipina), A. baillonii (Kamboja, Laos, dan Vietnam), A. banaense (Vietnam), A. brachyantha (Luzon, Filipina), A. citrinicarpa (Mindanau, Filipina), A. crassna (Kamboja, Laos, dan Vietnam), A. khasiana (India), A. parvifolia (Luzon, Filipina), A. rostrata (Malaysia), A. rugosa (Vietnam), A. sinensis (China), A. subintegra (Thailand), A. urdanetensis (Mindanau, Filipina), dan A. yunnanensis (China).
Kesemua jenis gaharu tersebut, oleh CITES dimasukkan dalam daftar Appendix II. Ini berarti perdagangan intenasional semua bagian tumbuhan ini diatur dengan ketat termasuk pemberlakuan kuota di masing-masing negara.


2. Persiapan Lahan
Untuk mendapatkan hasil budidaya yang maksimal sebaiknya pohon gaharu ditanam pada tanah yang memiliki kandungan hara yang cukup. Secara umum, tanaman gaharu dapat tumbuh beradaptasi pada jenis tanah apa pun.  
Langkah awal dalam persiapan lahan adalah buatlah lubang tanam dengan ukuran kurang lebih 30 x 30 x 30 dan jarak antar lubang sekitar 3 x 3 m. Jika kondisi tanah asam atau memiliki PH <5 1="" 3-5kg="" atau="" berikan="" berilah="" dengan="" diamkan="" dolomit.="" dosis="" kandang="" kapur="" kemudian="" lubang="" minggu.="" o:p="" pada="" pertanian="" pupuk="" sekitar="" selama="" tanam.="" tanam="">
3. Penanaman
Setelah persiapan lahan selesai, langkah selanjutnya adalah penanaman pohon gaharu. Pohon Gaharu merupakan pohon yang kurang tahan terhadap panas, sebaiknya tanam bibit gaharu pada waktu pertengahan musim hujan. Setelah penanaman selesai pasanglah sebuah bilah kayu tepat di samping bibit gaharu yang berfungsi sebagai penyangga dan ikat pohon gaharu dengan bilah tersebut agar pohon gaharu tumbuh lurus dan tidak roboh terkena angin.
4. Pemberian Naungan
Pohon gaharu kurang tahan terhadap cahaya matahari terlalu banyak. Untuk menjaga agar pohon gaharu tidak terkena sinar matahari langsung serta mengurangi penguapan sebaiknya pohon diberi naungan yang dibuat dari jerami atau daun yang lebar.
5. Perawatan Tanaman
Perawatan tanaman gaharu meliputi penyiangan dan pengendalian penyakit. Kendalikan gulma yang dapat mengganggu pertumbuhan tanaman dengan penyiangan secara rutin kurang lebih 3 bulan sekali. Hama yang sering menyerang tanaman gaharu adalah ulat (Lepidoptera sp) yang memakan daun gaharu. Untuk pengendaliannya dapat dilakukan dengan penyemprotan pestisida.

6. Inokulasi
Inokulasi adalah tahapan terpenting dari budidaya gaharu, karena pada tahapan ini proses terbentuk nya gubal gaharu. Inokulasi adalah proses penyuntikan bibit cendawan / fungi pada batang gaharu. Jenis fungi yang telah umum digunakan adalah Fusirium solani dan Fusarium moniliforme. Cara melakukan inokulasi adalah dengan mengebor batang gaharu kemudian menyuntikan bibit cendawan ke dalam lubang bor tersebut. Untuk menyuntikan cendawan kita bisa memanggil ahli penyuntikan dengan bayaran tergantung kesepakatan. Inokulasi dapat dilakukan ketika gaharu telah berumur 5-6 tahun.

Tahapan-tahapan dalam penginokulasian gaharu, bahan dan alat yang dibutuhkan adalah:
1)      Bor kayu dengan ukuran minimal 10 mm, sesuai dengan diameter batang semakin besar diameternya maka ukuran bor semakin besar, ukuran bor yang biasa digunakan berukuran 13 mm.
2)      Genset kapasitas 450 watt atau 900 watt dan alat bor listrik.
3)      Spidol permanent sebagai penanda titik bor.
4)      Alat ukur meteran untuk mengukur keliling batang dan jarak titik bor satu dengan lainnya.
5)      Pinset dan suntikan sesuai ukuran bor.
6)      Alkohol 70 % untuk sterilkan alat dan lubang hasil bor kayu.
7)      Masker, gunting serta kapas.
8)      Lilin lunak, plester atau lakban, untuk menutup lubang bor.
9)      Sarung tangan karet dan Inokulan Gaharu.

Proses pengerjaannya dengan mengikuti prosedur dibawah ini:
1)      Ukur titik pengeboran awal 1 meter dari permukaan tanah. Beri tanda dengan spidol. Kemudian buat lagi titik pengeboran diatasnya dengan mengeser kearah horizontal sejauh 15 cm dan vertical 15 cm. dengan cara yang sama buatlah titik berikutnya hingga setelah dihubungkan membentuk garis spiral.
2)      Ukur lingkaran batang untuk mendapatkan diameter batang. Misalkan lingkaran batang 60 cm, hitung diameternya dengan rumus : Keliling Lingkaran = diameter x 3,14. contoh 60 cm = diameter x 3,14 berarti diameter batang = 60 cm : 3,14 = 19,11 cm.
3)      Buat lubang sedalam 1/3 diameter batang pada titik pengeboran yang sudah ditanda dengan spidol. Contoh : Kedalaman lubang bor = diameter batang x 1/3 = 19,11 x 1/3 = 6,4 cm.
4)      Bersihkan lubang bor dengan kapas yang sudah dibilas dengan alcohol.
5)      Masukkan inokulan dengan pinset kedalam suntikan yang ujungnya sudah dipotong, kemudian masukkan inokulan kedalam lubang sampai penuh.
6)      Tutup lubang yang telah terisi penuh inokulan dengan lilin agar tak ada kontaminan dari mikroba yang lain. Untuk mencegah air merembes permukaan lilin ditutup kembali dengan plester atau lakban.
7)      Cek keberhasilan penyuntikan setelah 3 bulan, caranya buka plester dan lilin kemudian kupas sedikit kulit batang, jika batang tampak berwarna coklat kehitam hitaman berarti penyuntikan berhasil. Tutup kembali lubang dengan lilin dan plester.

Setelah kurang lebih 7 bulan dari penyuntikan ambil sample dengan mengebor lubang baru 5 cm diatas lubang sebelumnya, jika serbuk hasil bor sudah hitam atau wangi atau sesuai dengan ciri-ciri yang diinginkan maka pohon sudah dapat dipanen jika belum sesuai tutup kembali lubang dengan lilin. Tanda hasil mulai maksimal jika daun gaharu sudah mengering 50 % hal ini biasanya terjadi pada 1,5 tahun sampai 2 tahun setelah penyuntikan tergantung dari besarnya diameter batang, semakin besar diameter batang maka proses mengeringnya daun semakin lama.
Pada pelaksanaan penginokulasian terhadap pohon gaharu ini, harus diperhatikan umur dan diameter batangnya. Batas minimal suatu pohon dapat di inokulasi ditandai dengan pohon yang mulai berbunga. Biasanya umur tanaman tersebut sekitar 4 – 5 tahun atau diameter batang sudah mencapai 8 – 10 cm.
Berikut diulas teknik inokulasi menggunakan inokulan padat dan cair.
a. Inokulasi Dengan Inokulan Padat
1)      Buat lubang pada batang kayu gaharu dengan menggunakan bor.
2)      Diameter lubang bor sekitar 0,8 – 13 mm. Kedalaman optimal pemboran ini perlu disesuaikan dengan ukuran diameter batang, biasanya sekitar 5 cm. Setiap batang dibuatkan banyak lubang dengan jarak antar lubang bor sekitar 20 cm.
3)      Bersihkan tangan pelaku inokulasi dengan air hingga bersih dan dibilas dengan alcohol sebelum pelaksanaan inokulasi.
4)      Masukkan inokulasi padat ke setiap lubang. Jumlah inokulan disesuaikan dengan kedalaman lubang. Sebagai patokan, pemasukan ini dilakukan hingga lubang terisi penuh dengan inokulan. Agar pemasukan menjadi mudah, gunakan potongan kayu atau bamboo yang ukurannya sesuai dengan ukuran diameter lubang.
5)      Tutup setiap lubang yang sudah diberi inokulan untuk mnghindari masuknya air ke dalam lubang. Penutupan lubang ini dilakukan dengan pasak kayu gaharu. Penutupan pun dapat dilakukan dengan “lilin malam”
b. Inokulasi Dengan Inokulan Cair
1)      Lakukan pengeboran pada pangkal batang pohon dengan posisi miring kebawah. Kedalaman pemboran disesuaikan dengan diameter batang pohon, biasanya 1/3 diameter batang. Sementara mata bor yang digunakan berukuran sama dengan selang infus sekitar 0,5 cm. Selang infuse tersebut biasanya sudah disediakan produsen inokulan pada saat pembelian inokulan. Namun, bila belum tersedia, selang infuse dapat disediakan sendiri oleh petani.
2)      Masukkan selang infus yang ada pada botol inokulan cair kedalam lubang.
3)      Atur besarnya aliran inokulan cair tersebut. Hentikan aliran infuse bila cairan inokulan sudah keluar dari lubang.
4)      Tutup bagian tepi disekitar selang infuse dengan menggunakan “lilin malam”.
5)      Ulangi pengaturan aliran masuknya cairan infuse kedalam lubang setiap 1–2 hari, tergantung keadaan cairan dalam lubang. Pengaturan aliran dilakukan bila lubang sudah tidak terdapat lagi cairan inokulasi.
6)      Laksanakan penginokulasian ini hingga inokulan cair didalam botol infuse tersebut habis. Penginokulasian diulang kembali dengan botol inokulasi baru, bila belum ada tanda tanda kematian fisik dan fisiologis.

7. Pemeliharaan dan Pemupukan
Pemupukan perlu dilakukan terutama di lahan yang kesuburannya rendah. Pemberian pupuk dapat dilakukan dua kali dalam setahun, dengan ukuran 5 kg pupuk per-pohon. Pembersihan areal penanaman juga perlu dilakukan guna menghindari tumbuhnya gulma (tumbuhan pengganggu) khususnya pada musim hujan atau 4 kali dalam setahun.

8. Panen dan Pasca Panen
Produksi gubal gaharu akan terbentuk setelah perlakuan berjalan 3 bulan. Hal ini dimulai dengan berubahnya warna kayu sekitar penyuntikan menjadi cokelat dan bertekstur keras serta berbau wangi. Pemanenan dapat dilakukan mulai dari 1 tahun setelah penginokulasian dengan cara menebang pohon. Kualitas gubal gaharu yang dihasilkan berbanding lurus dengan tingkat kesuburan pohon dan lamanya penginokulasian. Semakin lama penginokulasian maka semakin tinggi kualitas gubal gaharu yang dihasilkan. Potongan-potongan gubal gaharu dibersihkan dari bagian kayu yang tidak terbentuk menjadi gubal. Pembersihan kayu putih dari gubal memerlukan tenaga kerja yang memiliki keterampilan khusus, sehingga tidak menurunkan kelas gubal akibat kurang terampilnya tenaga kerja. Kemudian dilakukan penyortiran berdasarkan kelasnya (Super, AB, BC, C1 dan C2). Untuk mengurangi kadar air, potongan gubal gaharu dikeringkan dengan cara menjemur di bawah sinar matahari. Untuk gaharu kelas kemedangan selain dapat dipasarkan langsung dapat pula di distilasi untuk diambil minyaknya.